About Covid-19

 

10 July 2021

            Dear SEMESTA…

Sudah hampir 2 tahun ini semenjak pandemic Covid-19 ada di dunia. Merampas semua hal yang seharusnya terjadi dari tahun 2020 silam. Pengalaman KKN disebuah desa dibulan Maret 2020 hanya berjalan 2minggu yang akhirnya terhenti percuma. Pengalaman sidang skripsi yang seharusnya meriah dengan berbagai hadiah dan ucapan dari teman-teman yang akhirnya berujung sepi. Hingga… Kenangan wisuda yang seharusnya adalah moment paling ditunggu selama 4 tahun menimba ilmu yang berakhir #dirumahsaja. Moment Lebaran, Tahun baru, dan banyak hal yang selama 2020 silam hingga detik ini tiada warna.

Kecewa, Sedih, Kesal, Takut, Gelisah, terlalu banyak rasa yang berkecamuk dalam benak dada. Mengapa semua harus terjadi, Kapan ini akan berakhir, banyak pertanyaan dan pernyataan yang bermunculan tiada jawab. Katanya, mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker adalah cukup untuk mengelak. Nyatanya, masih sangat banyak yang harus diambil hikmah dari ini semua, bukan sesimpel 3M.

Mengendalikan banyak manusia di semesta ini untuk mengikuti seruan mengelak Covid-19 adalah tak mampu kurasa. Namun, mengendalikan diri semaksimal mungkin sangatlah banyak gunanya, mulai tanyakan pada hati nurani masing-masing. Kita merenung sejenak, betapa amat sangat disayangkan apabila tokoh idola terbesar dalam hidup kita apabila terdampak pandemic ini, yakni Orang Tua kita.

Awal mulanya, aku percaya Covid-19 itu ada. Namun, jauh dalam benak ku slalu ku tanamkan keberadaannya jauh amat jauh dari lingkunganku. Semakin kesini, terasa semakin dekat. Bahkan hingga detik ini ia sudah tiba dan singgah dalam lingkungan tetangga rumahku. Ku mulai berfikir untuk mencoba hidup berdampingan namun tak saling sapa. Hingga sesak rasanya dalam dada ketika tak mampu kunikmati Oksigen yang melimpah dari Yang Maha Kuasa dengan bebas dan harus terhalang benda yang tak asing lagi selama kurun waktu 2 tahun ini.

Semakin kumencoba untuk memahami keadaan ini, ia justru semakin menjadi. Aku tak tahu apakah ia akan menyerangku atau tidak. Namun, yang kurasakan minggu terakhir ini tubuhku beku bak gundukan es, menggigil dalam kesunyian malam. Keesokan harinya, tubuhku serasa luapan air mendidih, panas yang melebihi batas suhu tubuh normal. Tiada henti butiran pereda panas melebur dalam tubuhku, namun tak kunjung reda. Hari ketiga, kurasa nyeri hebat menjalar dari seluruh kepala. Hingga hari itu, tak ada lagi fikiran positif yang mampu ku ukir. Hari keempat, semua mereda namun batuk mulai menjajah seisi tenggorokanku. Hari kelima, batuk mereda dan pilek menyumbat indra penciumanku. Disini justru letak dan titik yang paling membuatku tersadar. Karna aku yang mulai merasakan takut dan panic. Hidung tersumbat ku membuat ku tak leluasa bernafas, membuatku merasakan sesak yang sesekali berat untuk sekedar mengirup Oksigen alam. Tiap malam ku menangis, karna ku belum menemui hidung tersumbat yang hingga seperti ini, ini bukan hiperbola. Hanya untaian kata.

Dan kali ini, ku harus mendengar hal yang lebih menyayat hati. Keluarga tak luput dari dampak pandemic. Ya itulah yang membuat ku semakin kecewa pada keadaan. Banyak harapanku, semoga teruntuk keluarga senantiasa diberi perlindungan oleh-Nya Tuhan Yang Maha Agung, Maha Segalanya. Yang sakit segera disembuhkan, yang sehat dilindungi dari segala marabahaya, dan semoga pandemic ini segera berakhir.

Tak banyak yang dapat ku ungkapkan selain sedih dan pedih, percayalah Allah SWT Maha Baik. Akan ada banyak hikmah dari ini semua, tetap berikhtiar, menjaga protocol kesehatan, menjaga orang-orang tersayang dengan tetap mematuhi anjuran Pemerintah. Banyakin beribadah dan berdoa. Stay Health !

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Always prayer for you

Kisah Sedih