Salam Perdamaian
15 Maret 2019
Dear
kisah asmaraku…
Semuanya
penuh dengan lika-liku drama cinta, hingga antara air mata, luka, dan bahagia
aku tak tau lagi sedang merasakan yang mana. Aku sendiri penuh dengan
keheranan, hati yang enggan segera melabuhkan harapannya bertentangan dengan
perasaan yang ingin segera pergi dari luapan kenangan.
Kini,
terlambat sudah untuk sekedar menyesali. Hanya sekedar ingin mengetahui kabar
dari hati yang sudah lama pergi. Aku sebenarnya tak ingin mengetahui apapun
tentangmu. Entah filling darimana tiba-tiba datang begitu saja.
Aku
melihatmu…
Setelah
sekian lama selama satu tahun lebih kamu pergi, kini aku benar-benar melihatmu.
Wajahmu tak begitu kuingat dalam ingatan, begitu juga dengan postur dan
suaramu. Aku hampir tak mengenalimu.
Tapi,
terimakasih wahai seseorang yang sudah kuanggap sebagai brother. Karna walaupun
hubungan cinta itu tak ada lagi, persaudaraan dan pertemanan lah yang kuharap
tetap akan terjalin antara kita. Aku hanya ingin terus menganggapmu ada didunia
ini walau sudah tak ada lagi dihatiku. Bukankah kita masih sesama manusia ?
Untuk
apa harus menganggap satu sama lain itu mati ? untuk apa menganggap semua yg
telah terjadi itu misteri ? semuanya tak ada gunanya.
Saat
ini, yang kurasa adalah bahagia. Karna telah ada seseorang yang perlahan telah
menghapus luka. Sebentar lagi dia akan menemuiku, menunjukkan betapa bahagianya
nanti saat hari itu. Dilain sisi, aku merasa seperti sedang terluka. Ketika
harus melihatmu hari itu juga.
Seakan
luka itu kembali tergores. Ia tak mau menyembuhkan bekasnya. Wahai masa laluku,
kamu adalah luka yang terlalu kuat untuk ku lupa sakitnya. Bahkan disaat hari
bahagia. Aku harus mencicipi aroma luka waktu itu.
Namun
tak apa, aku setidaknya masih sanggup tersenyum sembari mengucap. Aku akan
segera melupa, jadi aku akan baik-baik saja J
Komentar
Posting Komentar