Story Of Pandemic
Duniaaaa … kumohon lekas lah pulih. Keadaan saat ini sangat membuatku putus asa rasanya. Membuatku menyesal mengapa aku harus menjadi bagian dari tenaga medis ..
Banyak tanggung jawab yang ada di
pundakku, kupikir sekolahnya yang berat, kupikir keterampilannya yang berat,
ternyata menjaga kesehatan keluarga dan orangtua ku sendiri yang paling berat.
Tahun ini, tahun 2021 adalah
tahun terberatku. Dengan restu kedua orangtua ku, ku beranjak menimba ilmu
kedua kalinya. Tugasku yang bejibun yang tak kunjung usai sangat membuat otakku
tak sehat lagi. Tak ada sedikit support yang membuat ku tergugah, semua karna
keterpaksaan semata, aku hanya berharap dengan terpaksa tugas bejibun itu akan
selesai dengan sendirinya. Sebenarnya itu adalah secuil dari kalimat pasrah
tapi tak menyerah.
Tahun ini, kasus pandemic semakin
melonjak. Semakin ketat dan berat aku harus menjaga semuanya. Aku harus menjaga
diriku sendiri, dan tugas terakhirku yang harus ekstra adalah menjaga kedua orang
tuaku. Jujur, aku tak tau dulu alasan apa orangtuaku mengarahkan ku sekolah
kesehatan. Jika pada akhirnya mereka tak ingin mendengarkan anjuranku. Kini,
sedih, kecewa, dan kesal rasanya.
Hanya ada rasa menyesal yang amat
sangat mendalam, ingin rasanya tak menjadi tenaga medis, ingin rasanya mengajar
dan mengajar saja. Ditambah, kuharus berseteru dengan kakak sulungku. Seorang anak
pertama yang keras dengan pendiriannya, yang tak mampu se-fleksibel seperti orang pada umumnya, yang tak mampu
menahan emosinya, dan hanya terus menuntut dan menuntut.
Aku tahu, aku sebagai anak
terakhir. Aku paham, aku harus menjaga orangtuaku. Dan memang itu yang ingin
dan sangat menjadi tujuan akhir hidupku sebagai pengabdian. Namun, ada banyak
hal yang mengganggu batinku. Kakak sulungku yang selalu menyudutkan ku, selalu
menyalahkanku, dan sama sekali tak pernah mensupport ku, bahkan memberi sepatah
kata semangatpun. Yaaa.. semua karna pandemic dan virus sialan ini.
Ayahku pernah berkata “Kepanikan
adalah separuh dari penyakit, dan janganlah terlalu takut dengan penyakit karna
ia juga makhluk Allah SWT dan sebaiknya kita hanya taku kepada-Nya. Namun, tak
lupa pula ikuti anjuran Ulil Amri dan para pemimpin (Pemerintah)” Kata-kata itu
yang senantiasa ku ingat dan kupegang.
Dan sekarang yang terjadi adalah,
perseteruan antara Ayah dan kakak sulungku. Ayah yang sebenarnya bisa dan masih
mampu mendengarkan anjuran namun dengan cara yang halus dan mudah dipahami,
namun kakak sulungku yang dengan caranya yang kaku dan keras sangat tidak bisa
diterima dan diaplikasikan oleh ayah. Hal itu yang justru semakin membuat ku
tersudut, kakak sulung yg menyudutkan ku dan menuntut namun tak dapat berbuat,
dan ayah yang enggan menerima anjuran.
Sebenarnya, selama ini aku telah
bekerja keras dalam banyak hal yang jarang kuceritakan pada kakak sulungku. Termasuk
persoalan menjaga orangtuaku, dan disini puncak kesedihanku merebak. Disaat aku
yang menurutku sudah bekerja keras saat pandemic yang akhirnya berakhir
disudutkan, dengan kenyataan bahwa kedua orangtuaku yang selalu membanggakan
anak sulungnya.
Seandainya kakak sulungku tahu,
mungkin caranya menjaga orangtuaku tak akan sekeras ini. Ayah dan ibu selalu
membanggakan mu, mereka senantiasa menceritakan kesuksesanmu. Dimata mereka,
kamu adalah anak yang sukses, baik, dan sholihah. Berbeda dengan pemikiranmu yang
selalu merasa kurang. Mereka selalu sedih tiap melihatmu harus menangis dan
mengeluh akan rumahtangga mu. Aku yang selama ini menjadi saksi perasaan ayah
dan ibu.
Dan disinilah, kesedihan ku yang
tiada obat hanya mampu kuukir cerita pendek. Kelak, aku ingin seperti mu kakak
ku. Seperti yang ada pada curahan ayah ibu. Aku hanya berharap, Ya Allah… jagalah
kami, jagalah rumah ini, jagalah keluargaku, ayah, ibu, kakak, dan aku. Jika
kami hanya mampu berusaha dan menjaga maka kabulkanlah beri kesehatan pada
kami. Agar senantiasa terus dapat beribadah, bersujud, dan berdoa pada-Mu.
Allahumma Aamiin.
Komentar
Posting Komentar