Can't Speak Up
Dear Akhirat…
Rasanya ingin aku membenci dengan
keberadaan dunia, aku terus merasa sedih dan sakit hati setiap kalinya. Aku
tahu, justru disaat itu Allah SWT Tuhanku sedang menegurku, sedang
merindukanku, dan sakit hati ini yang terus memperingatkanku bahwa aku telah
jauh dari-Nya saat ini.
Tak pernah terfikirkan dalam
hidupku, kuharus merasakan luka dan sakit yang sama bahkan ini jauh lebih sakit
dari sebelumnya berkali-kali lipat. Sedikit flashback, ku sempat berada di
konsisi yang sangat terpuruk dan aku berhasil melaluinya. Saat itu justru aku
mengenal seseorang yang selalu hadir dengan tawa dan bahagia.
Membutuhkan waktu yang lama untuk
ku kembali merasakan hadirnya cinta, dan saat nyaman dan cinta itu hadir semua
terasa begitu sempurna. Aku menjalani hari bahagia itu sudah genap 2 tahun
lamanya. Hingga kini hampir ku menginjak ditahun ketiga.
Aku selalu merasa perasaanku
gundah, resah dan seperti ada yang beda. Aku selalu berfikir, apakah hubungan ini
sebegitu sempurnanya ? Apakah hubungan ini benar-benar se-seci se-baik yang aku
fikirkan ? Mengapa selama itu aku menghabiskan waktu, tak pernah ada sekali pun
hal yang membuat aku sedih menagis begitupun juga ia. Kami hanya sesekali mengadu
ego hanya karna masalah yang sepele. Kami sesekali saling melempar amarah namun
semua itu tak berlangsung lama. Kami kembali baik seperti sedia kala, bahkan
lebih baik dari sebelumnya.
Dengan berkali kali ku mengucap
basmalah, ku mulai mencari tahu ada apa sebenarnya. Banyak cara yang telah
kulakukan, dari yang aku berpura-pura menjadi orang baru dalam hidupnya, berusaha
mengemis belas kasihan padanya, hingga ahirnya merayunya. Dan, tahukah wahai
dunia… dia selalu merespon apapun itu, dia yang sebegitu baiknya bahkan menaruh
perhatian lebih pada orang baru tersebut yang tak lain adalah aku sendiri. Aku
kaget, aku sedih, aku sakit, dan ingin marah rasanya.
Setelah semua terbongkar, dia yang
sebegitu memohon ampun dan maaf padaku. Aku luluh. Aku tak kuasa melihatnya
sedih walaupun lebih sedih dan sakit yang kurasa. Kami kembali seperti biasa, untuk
yang kedua kalinya. Aku merasa ada yang berbeda antara ia dengan sahabatku
sendiri, beberapa kali aku telah memperingatkan namun dengan ringannya ia
menjawab bahwa aku tak perlu khawatir dengan ini semua karna ia dan sahabatku
benar-benar hanya sebatas kakak adik, katanya.
Aku kembali mencari tahu, dan
terlihat jelas semuanya. Dari sikapnya, perhatiannya, semua hal yang ia lakukan
menurutku adalah terlalu baik untuk posisi seseorang yang telah memiliki pasangan dan berperilaku baik juga bahkan perhatian pada orang lain. Sesuatu yang sedang tidak beres perlahan terlihat, ia menemui
sahabatku, pergi bersama, dan entahlah. Itu adalah hal yang paling menyakitkan
melebihi apapun. Saat semua telah kubicarakan dengan baik pada kedua orang ini,
ia berdalih bahwa melakukan semuanya karna takut aku marah, takut aku cemburu,
dan entahlah.
Sebenarnya, dengan hatiku yang
paling dalam aku tulus memaafkan sahabatku karena apa ? karena sebenarnya ia hanya ingin berbagi persahabatan dan ingin terbuka denganku,namun berbeda dengan lelakiku yang selalu ingin menyembunyikan hal itu seolah ada sesuatu diantara mereka dan saat ini aku selalu memikirkan seribu
kali untuk memaafkan lelakiku. Setelah jutaan air mata deras yang keluar dari
pipi, aku kembali luluh dan memaafkan lelakiku. Dengan syarat untuk tidak
mengulangi hal yang sama suatu saat nanti. Karna bermain belakang adalah
penyakit, adalah hal yang tak pantas ada di sebuah hubungan.
Kini, mungkin hampir setahun
setelah kejadian tersebut. Perasaanku kembali diguncang, aku sering merasa
ingin menangis sendiri tanpa sebab. Aku sering merasa susah tidur, sering
merasa ada sesuatu yang beda dan ini adalah perasaan yang sama saat pertama kali ak
merasakan sebelumnya. Aku kembali ingin melihat, ada apa sebenarnya dengan ku
dan dia.
Aku memancing menceritakan cerita
karangan ku tentang aku dan laki-laik lain. Aku ingin melihat bagaimana
responnya, aku ingin melihat hal apa yang akan dilakukannya, dan aku tentu ingin
melihat seberapa berharganya aku dimatanya. Setelah karangan cerita itu
ditanggapi dengan serius olehnya, ia terpancing dan jujur bahwa ia sedang dekat dengan salah satu rekan kerjanya. Hanya sebatas kata itu perlahan mulai menyayat hati
dan perasaanku. Iya, ini kuncinya. Iya, ini jawaban dari semua perasaan tidak
enakku selama ini. Aku harus mencari tahu lebih dalam.
Didalam ceritanya, aku tahu ia
hanya menceritakan sebatas permukaan saja. Dari ceritanya pula pisau tajam
kembali menyayat nyayat kecil perasaanku. Hehe, gak nyanga ternyata sesakit ini
ya DUNIA itu. Saat bertemu, kumelihat isi ponselnya, ku membaca pesan demi
pesan dari rekan kerjanya. Dan hal yg mencuri perhatian adalah mengapa pesan
terakhirnya adalah Kemarin ? sebelum itu berarti ada hal yang ia sembunyikan.
Ku berniat untuk menyadap telepon
genggamnya, aku yakin akan ada sesuatu yang terjadi setelah kita kembali LDR. Dan
ternyata benar. Hehe, ya Allah sungguh rasanya ingin aku melambaikan tangan
bahwa aku ingin menyerah, seperti benar-benar gak kuat lagi menahan sakit.
Pesan pribadi dari rekan kerjanya
tak pernah usai, mereka senatiasa bertukar pesan setiap saat setiap hari.
Sebenarnya dari isi pesan tersebut, rekan kerjanya cenderung biasa namun yang
selalu mencuri perhatianku justru balasan dan respon dari lelakiku. Ia
seantiasa menanyakan kabar, aktifitas, dan perhatian. Semua ini sangat mengganggu
mental dan fikiranku, hampir seminggu ini aku tak pernah bisa tidur nyenyak,
tak pernah bisa makan nyaman, selalu ingin marah dan nangis. Tp Ya Allah,
mengapa lagi-lagi selalu ada bisikan yang mengatakan padaku bahwa tenang.. aku
harus tenang.. lelakimu adalah orang baik, sewajarnya kalau ia baik juga dengan
orang lain. Tak apa.. aku tak boleh langsung diambil hati.. kuat ya.. aku kuat
kok.. ini bukan main belakang, ini hanya pertemanan seperti berteman dengan
sesama rekan kerja saja, oke aku nggak boleh berfikir aneh”, aku nggak boleh
berfikir terlalu jauh. Dan baiklah, aku mulai sedikit tenang dengan aku mencoba
untuk positif thingking.
Tepat, hari ini. Aku menemukan
keganjalan yang jelas dan pasti. Ia memberi emoticon yang tak selayaknya ia berikan
pada seseorang yang sebatas rekan kerja. Hari ini pula, aku hancur menangis dan paling
menyakiti. Namun aku tak boleh menyerah, aku harus kuat. Aku mulai mengumpulkan
bukti demi bukti untuk suatu saat ingin kubicarakan baik-baik dengannya. Jadi…
semoga aku kuat dan sabar sampai saat itu.
Ya Rabb, izinkan aku
mengungkapkan semua isi hatiku. Mengapa harus ia, mengapa harus aku Ya Rabb ?
dia lelaki baik, dia lelaki bertanggung jawab, dia lelaki santun, penuh
perhatian, dan sungguh baru kali ini aku menemukan perlakuan seperti ratu saat
bersamanya. Ia sangat penyabar, mengerti segala kurang ku dan menerimaku dengan
sepenuh hati bahkan perihal masa laluku, sebaik itu ia Ya Rabb. Banyak hal baik darinya Ya Rabb, hingga berkali-kali kusebut
dalam doa ku agar Engkau perkenankan kami bersama hingga tutup usia. Bahkan aku
tak peduli dengan kesenjangan yang ada, aku yakin itu semua tak penting dan aku
selalu yakin bahwa ia adalah masa depanku.
Namun Ya Rabb, aku ternyata
melupakan satu hal. Yaitu agama, agama yang mungkin akan menjadi pertimbangan
terberatku. Keadaan aku yang belum mengerti agama dengan kuat, dan keadaan ia yang masih
sangat perlu belajar agama. Menurutku ini kesenjangan yang sebenarnya, namun
kupikir semua ini bisa dicegah, bisa diubah. Perlahan aku terus mengajak,
menasehati perihal agama. Alhamdulillah ia menerima, namun belum sepenuhnya
menjalankan. Sebenarnya ini yang paling membuatku sedih Ya Rabb. Apakh karna ini
Engkau berusaha untuk terus memperingatkan ku ?
Ya Rabb, terimakasih untuk semua
perhatian Mu, kesabaran Mu, wahai Tuhanku. Ku Mohon dampingi hambaMu terus,
beri kesabaran dan ketabahan serta kekuatan utnuk terus berusaha mencari
kebenaran dan Ridho Mu. Ku mohon beri Petunjuk Mu, bissmillahirramanirrahim …
Komentar
Posting Komentar