Karir

Selamat pagi dunia, terimakasih ku ucapkan padaMu Tuhanku Allah SWT karna sampai detik ini ku masih bisa menghirup udara pagi dengan keadaan sehat. Minggu ini, nafas terasa sangat berat untukku. Mengapa ? karna setelah ku berperang dengan teknologi yang didalamnya banyak soal-soal yang menguji dan menentukana masa depanku, perlahan nyali besarku menciut. Yah, ujian CPNS pertama bagiku.

Hari itu, selasa 12-10-2021 banyak pengorbanan yang terjadi. Terutama atas jasa ibu ku tercinta, ibu ku yang tak kurang dalam memberiku sarana prasarana hingga detik ini. Ibu, maaffkan aku ya bu. Maaffkan anak bungsu mu ini. Malu rasanya aku selalu menghamburkan banyak dana dan tenaga mu bu. Harusnya, ibu yang hendak pensiun ini menikmati masa tua dengan terima balas budi dari anaknya. Tapi hari ini, justru beliau masih kuat dan sehat mengorbankan dana dan tenaganya untuk mengantarku berperang di tes CPNS tahun ini.

Sebelum hari itu, ku telah melalui banyak hal masa sulit. Karna tes kali ini bertumpukan dengan banyak hal terkait perkuliahanku yang belum selesai. Oleh karena itu, harapan saja tidak cukup untuk diterima. Sebulan full aku mulai mati-matian mengerahkan segala tenaga dan fikirku untuk belajar dari nol. Dari yang aku lemah hitung-hitung an hingga lemah dalam menghafal, rasanya selalu ingin menagis. Karna serasa tiada guna aku sekolah wajib 12 tahun lamanya. Perlahan, ku mulai memahami setiap hal yang sulit bagiku. Perlahan ku selalu mencoba disetiap kesempatan try out untuk melihat sejauh mana kemampuan ku. Tiga kali try out yang menurutku sangat menguras emosi dan tenaga, dari nilai yang sagat jauh dari target yaitu 340, hingga menginjak 365 sampai terakhir 378. Semua itu masih jauh dan sangat jauh dari target ku yaitu 450. Atau aku sempat terbesit dalam batin, aku ingin menginjak minimal 400 jika masih ada kesempatan waktu untuk tryout.

Namun, kala itu tinggal menghitung hari dengan harap-harap cemas. Dengan modal doa, doa, doa dan usaha aku selalu berharap aku dapat berperang walau sampai titik darah penghabisan demi sekali kemenangan. Hanya ini yang mampu kulakukan untuk membalas ayah dan ibuku, membalas semua jasa mereka. Mereka sekarang sudah sangat tua, dan aku sebagai anak bungsu belum tentu memiliki kesempatan yang sama seperti kakak ku untuk membahagiakan mereka. Semoga ayah ibuku senatiasa diberi sehat dan umur panjang Ya Rabb, agar aku memiliki kesempatan untuk itu untuk melihat mereka bangga dan bahagia.

Hari itu, ibuku menggandeng tangan ini melangkah sampai depan ruang transit untuk ujian. Hatiku benar-benar merasa haru, aku harus BISA, aku harus MENANG, aku harus LULUS, aku harus DITERIMA. Hanya kata itu yang senatiasa terlintas dalam benakku, saat kumulai menduduki kursi dan telah siap mengerjakan tes. Hatiku tak karuan rasanya, terlebih saat mengetahui bahwa soal-soalnya jauh dari perkiraanku. Banyak-banyak istighfar mulai terucap dalam tutur kata ku, ya Rabb mampukah aku menyelesaikannya dengan target ku yang besar. Ingin rasanya ku menangis sejadi-jadinya ditempat itu. Namun, kukerahkan seluruh tenaga ini hingga akhirnya… nilai itu terpampang jelas di layar monitor saat waktuku sudah habis.

Yah, I did it ! 408 nilai yang entah mengapa aku hanya mampu tersenyum melihatnya, Alhamdulillah. Dengan soal yang diluar pemikiran dan latihan-latihan selama ini serta nilai yang pernah terbesit dalam batinku kala itu, menurutku Alhamdulillah sebuah keajaiban dan progress yang baik.

Ternyata, aku mungkin salah. Aku salah dalam menilai keadaan dan kejadian. Nilai ku belum aman, aku masih terhitung mengkhawatirkan. Disitu aku sedikit demi sedikit mulai down, aku senatiasa memberi semangat untuk ibuku, senatiasa mengatakan bahwa “Bu, tidak apa-apa ya bu ? tidak apa-apa kan bu ? jika lolos dan diterima Alhamdulillah, jika tidak nggak papa kan bu?” berkali-kali kata itu terucap, karna aku tahu. Aku tahu sorot mata ibu sedih, aku tahu sorot mata ibu ada harapan besar untuk ini.

Dan kemarin, aku iseng untuk mencari tahu nilai pesaing ku. Betapa terkejutnya aku, beberapa yang kutemukan nilainya diatasku. Lemas dan tak kuasa menahan, tangis ini pecah seketika. Aku tak menagisi bahwa nilaiku kurang Ya Rabb, aku tak menangisi ataupun meyesali hasilnya, namun aku menangisi mengapa dikesempatan yang besar ini aku belum mampu memberi sesuatu pada ayah dan ibuku. Mengapa kerja kerasku hanya seperti itu saja, mengapa tak lebih kuperjuangankan dari jauh-jauh hari. Aku pasti bisa mendapat lebih dari nilai itu, hanya itu saja yang selalu kusesalkan. Berkali-kali aku menyalahkan diri ini.

Hari ini, aku belum mampu memberitahu siapapun. Aku hanya terus berusaha mencari pengganti mungkinkah ada lowongan kerja yang baik diluar sana untuk ku. Kini, aku memiliki 2 cadangan. Bekerja di BPJS dan mendaftar angkatan TNI untuk tenaga kesehatan. Proses mendaftarnya saja sudah sangat rumit, dengan presentase diterima yang aku sendiri kurang tau mencapai 50% kah atau bahkan mungkin hanya 2%. Aku tak peduli itu semua, yang aku fokuskan hanyalah mencoba, mencoba dan terus mencoba. Mengingat bahwa aku pernah gagal di pendaftaran bintara bidan untuk angkatan Polri, saat itu aku sangat kecewa pada diriku sendiri mengingat betapa besarnya pengorbanan ayah dan ibuku memperjuangkan hal itu, bahkan didetik-detik terakhir saat aku mulai menyerah. Oleh karena itu Ya Rabb, besar harapanku padaMu agar Engkau perkenankan aku untuk membalas sejuta kecewanya ayah dan ibuku padaku, agar bahagia menyertai orangtuaku.

Ya Rabb, ditengah hati yang berkecamuk dengan sedih dan kecewa ini, ditengah tenaga yang montang-manting mencari pengganti dan cadangan. Ku mohon Ya Rabb ku, kabulkanlah salah satu doa terbaik untuk ku dapat bekerja dimanapun itu dengan harapan aku hanya ingin mengabdi untuk ayah dan ibu ku di masa tua nya, ingin mensejahterakan masa tua nya dan ingin mengurus masa tua nya. Ya Rabb, tak banyak harapan selain hanya demi orang tuaku.

Semoga kelak, Engkau tempatkan hamba ditempat di pekerjaan yang baik disisiMu, dipertemukan dengan orang-orang baik dihadapanMu, dan senantiasa menjadi orang baik untuk orang disekitarku. Ya Rabb, kabulkanlah doaku, aku yang terlalu banyak memohon dan meminta ini kabulkanlah salah satu doa yang baik menurutMu. Kelak 5 tahun lagi, aku akan tersenyum membaca tulisan rangkaian kata hati ini. Terimakasih Ya Allah.

Komentar

  1. Ceritanya sangat sedih. Tapi jangan berlarut dalam kesedihan.
    Tahun 2017 saya tes CPNS juga gagal.
    Ambil hikmahnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

About Covid-19

Always prayer for you

Kisah Sedih