First Job and "Trusted First Love"

Dear siapapun dan entah apapun,

Memang ya, rumput tetangga akan selalu terlihat hijau. Sore ini aku tiba-tiba menagis. Tak tahu menahu apa yang kutangisi. Aku hanya merasa Alhamdulillah bersyukur sudah berada di titik ini. Di titik yang dulu kudambakan, dititik dimana orang sering bercerita tentangnya yang aku hanya setia menjadi pendengar tanpa merasakan bagaimana rasanya. Yah, ku mulai menghela nafas yang panjang. Ternyata seperti ini yah, duka citanya... yah tak seindah yang dulu kudamba-dambakan. Namun, aku selalu mensupport diriku untuk melalui dan menikmati setiap prosesnya.

Sekarang, aku benar-benar telah dewasa. Ku mulai untuk berkarir, menjadi tenaga kerja dengan bayaran yang menurutku sudah cukup. Namun, banyak hal yang membuatku terombang ambing disini. Jujur, aku nyaman dan bersyukur telah dipertemukan dengan orang-orang baik yang bahkan sangat dekat dengan Tuhannya, sedikit demi sedikit kebiasaan itu mulai kuikuti. Satu bulan, dua bulan telah berlalu dan aku masih saja nyaman dan senang.

Namun kini, kumemasuki bulan ketiga yang membuatku terhenti sejenak. Ada banyak hal yang selalu saja berhasil membuatku meneteskan air mata. Mengapa aku harus jatuh cinta diusia yang sudah bukan saatnya lagi, dan mengapa aku justru jatuh cinta dengan seseorang yang menurutku aku tak akan pantas. Aku terus menangisi keadaan ini. Setiap kali beliau ada, seperti ada support dorongan untuk menjalani hari-hariku. Setiap kali senyum, sapa dan perilakunya berhasil membuatku untuk terus ingin menatapnya, ingin selalu mengobrol dengannya, dan mungkin bercerita lebih dalam. Banyak hal imajinasi dan halusinasiku andai aku bersama dengannya, andai aku mampu membuatnya jatuh cinta balik, andai aku mendapatkan lelaki sholeh sepertinya. Bayak andai-andai yang hanya mampu kurangkai kata dengan airmata. Kenapa harus ada airmata yang seharusnya ini adalah kisah asmara bahagia. Karna aku selalu bercermin, aku selalu menyadarkan diriku sendiri, bahwa aku tak pantas sejauh itu. Posisi dan kedudukan yang berbeda, keadaan spiritual yang jauh, bahkan mungkin dilihat dari segi apapun tak ada cocok-cocoknya. Keadaan seperti inilah yang kadang aku merasa seperti menjadi tokoh utama dikisah dongeng, sayangnya tak mungkin ber endhing seperti kisah dongeng pada umumya. Yang pangeran tampan mau bersanding dengan rakyat jelatanya. Aku selalu memotivasi diriku untuk melupakan semuanya, tak perlu berkhayal terlalu jauh. Cukup mengambil hikmahnya, dicontoh baiknya, memperbaiki diri terus menerus, dan terus menjadi orang baik seperti mereka. Yah, hanya itu yang memotivasiku saat ini.

Seringkali, aku tersenyum melihat orang-orang yang bahagia sekali yah hidupnya. Ia bersama dengan orang yang dicintainya yang sama-sama saling menyayangi, berjuang bersama hingga berada di pelaminan, setelahnya karirnya melesat jauh, keduanya selalu tampak bahagia menjadi pasangan yang sempurna dimataku. Seringkali aku ingin seperti orang-orang itu, aku bahkan yang tak banyak menuntut ini mengapa aku belum juga sampai ditahap itu. Mungkinkah aku nanti juga akan merasakan seperti apa yang kulihat pada orang-orang ? aku sungguh ingin ya Tuhan. aku ingin dicintai, dihargai kedudukanku sebagai perempuan, dilindungi, diterima semua kurang dan masa laluku, dan yang paling penting kuingin dibimbing menjadi anak yang sholehah untuk ayah ibuku, dan istri sholehah untuk suamiku. Tuhan Yang Maha membolak balikkan hati manusia, semoga Engkau pertemukan dengan yang saling menyayangi dan taat kepadaMu.

Kegalau an yang kesekian kalinya, disaat aku mulai nyaman ditempat kerjaku. Aku memiliki ibu yang senantiasa menanti kehadiranku. Jujur, semenjak aku mengecewakan ibuku saat aku duduk dibangku SMA, aku mulai mengubah keinginan dan egoku. Aku senantiasa mengedepankan kemauan ibuku, sejak dari kuliah, sampai bekerja. Semua kulakukan berdasarkan ijin dan restu ibuku, semata-mata selain karna permohonan maaf, juga karna ibuku adalah kunci kehidupanku. Tujuan hidupku, membahagiakan ibu, membuat ibu bangga dan bersyukur memiliki aku, dan sekaligus membalas jasa ibu selama hidupku yang mungkin tak akan pernah lunas terbayar. Oleh karenanya, ibuku yang terus-menerus merengek memintaku pulang, aku senatiasa membuatnya melupakan hal yang mengkhawatirkannya, sebisa mungkin kuberi kabar setiap harinya, kuceritakan hal yang membahagiakan setiap momennya, demi membuat ibu tidak kesepian dan kepikiran lagi terhadapku. Sebisa mungkin menahan segala masalah hidupku demi menjaga mood nya, semua kulakukan bukan demi apapun namun demi ibuku seorang.

Suatu malam, pecah tangisku. Sesak dalam benak dadaku, yang saat itu ibu mulai memarahiku dengan perkataan yang membuatku terpukul malam itu. Disaat aku terus menyembunyikan lelah, letih, kesal, dan penatnya bekerja. Ibuku mematahkan semangatku untuk menemaninya malam itu. Ibu mengira sia-sia ibu merawat menyekolahkanku apabila anaknya ikut atau bekerja terus menerus tanpa memperhatikan ibu, ibu merasa terbebani dengan aku yang mengeluh saat bekerja, ibu yang marah dengan keadaan bahwa aku belum bisa menemani ibu saat ini. Keadaan ini sungguh membuat hatiku tersayat, membuat air mata terus menetes, sesak, sakit.

Ibu, apapun yang kulakukan didunia ini. Entah itu sekolah, bekerja maupun menikah semua atas dasar restu dan ijin ibu. Yang kelak aku ingin menebus semuanya, semua salahku. Yang kelak aku mampu sembuhkan luka dihatimu bu. Bahkan, seluruh raga dan nyawaku aku ikhlaskan aku persembahkan untuk mu. Maka, tak mungkin dan tak akan pernah terjadi bahwa aku akan meninggalkan ibu. Aku ingin bersamamu terus bu, membuatmu bangga dan bersyukur memilikiku. Maka tetaplah sehat, ibuku tersayang.

Dilain sisi, akhir-akhir ini aku terus menerus kepikiran dengan sosok yang mengganggu perasaanku. Dia yang rasanya sulit untuk kugapai, dia yang bahkan berada di kasta yang jauh diatasku, dan dia yang terlalu sempurna hanya untuk seorang aku. Ya Allah Ya Tuhanku, bolehkan aku menyayangi salah satu maklhuk Mu ini, bolehkah aku sekedar berdoa dan mendoakannya agar bersamaku, bolehkah dan mungkinkah ia juga menyayangiku ? Ya Rabb, aku ingin selalu berada dijalan Mu. Aku ingin disisa umurku mau dan mampu bertaubat. Menghabiskan sisa hidup hanya untuk beribadah kepada Mu. Ya Rabb, bolehkah Engkau kabulkan doaku agar ia sosok lelaki ini mau bersanding denganku.

Karna tahukah ? aku pernah merasakan iri, aku pernah merasakan cemburu dengan kehidupan sosok lelaki ini. Seumur hidupku, hal terindah adalah saat ayahku mengantarkan aku sekolah, mengambilkan raport sekolahku, dan pergi makan berdua dengan ayah. Hal terindah yang lain adalah ketika aku diantar sekolah oleh kakak lelakiku dua kali dalam sejarah. Ya, mereka adalah lelaki pertama dan kedua yang aku sayangi. Karna aku sedari kecil selalu diajarkan untuk mandiri, untuk mampu beradaptasi dengan cepat, untuk mampu survive dikehidupan luar, dan untuk bisa selalu bersyukur walaupun keadaan sedang tidak baik, serta untuk terus mengedepankan ibadah diatas apapun bahkan materi dan kecerdasan. Maka, setelah aku melihat, merasa, dan berada dalam keluarga ini. Seringkali aku menangis sendiri, aku menjerit dalam hati, aku ingin seperti mereka. Aku ingin jadi dia, aku ingin dan ingin. Melihat adiknya yang senantiasa diantar oleh ayahnya, kemanapun pergi dan keinginan nya selalu terwujud, bahkan ayah ibunya tak pernah kulihat sesekali membentak, kakak lelaki nya yang amat teramat perhatian, semuanya. Semua hal yang tampak begitu sempurna dimataku, semakin membuatku semakin deras teteskan air mata. Namun, aku tetap tak lupa untuk selalu bersyukur. Untuk aku yang dulu menjadi yang sekarang adalah hal yang tak mudah. Mereka, ayah ibuku yang mendidik dengan caranya tetap berhasil membuatku menjadi perempuan kuat dengan berbagai situasi dan kondisi. Terimakasih ayah, ibu…

Dan… saat ini, tiba-tiba aku rindu. Tanpa alasan yang jelas, aku hanya rindu. Rindu dengan obrolannya, rindu dengan senyum dan sapanya, rindu nasehatnya, semuanya. Besok, ia akan pergi, aku akan pulang. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk hapus semua rasa ini setelah aku kembali, karna aku akan menelan kenyataan pahit bahwa pasti saat aku kembali, ia tak ada dirumah. Terimakasih ya aku, semoga aku lekas lupa dan tetap kuat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

About Covid-19

Always prayer for you

Kisah Sedih