Good Boy

Dear siapapun kamu, iya kamu yang sedang membaca ini. Tulisan dan goresan kata ini yang akupun tak tahu menahu ingin membicarakan kisah ini dengan siapa. Dear kamu, Aku sedang menyayangi seseorang, seseorang yang bahkan aku tak tahu apakah ia akan menjadi yang terakhir dalam hidupku.

Seseorang itu, tepat hari ini tengah membohongiku. Tengah berdusta dengan suatu hal yang aku ketahui. Mungkin, hari ini aku bodoh. Aku yang selalu memaklumi, aku yang memaafkan, aku yang terus berfikir akan baik-baik saja dengan hal itu. Justru semakin menyakiti perasaanku sendiri. Hati ini, batin ini terus mengatakan untuk ku berhenti saja, namun isi kepala menyuruhku untuk tetap tenang dan menunggu waktu yang tepat. Sejujurnya, semakin lama aku menunggu semakin aku sakit.

Siapa lagi manusia yang aka kuat menghadapi ini semua sendiri, benar-benar tiada yang mendengar keluh kesahku, kesedihan, sakit hati dan melihat air mataku selain Yang Kuasa. Terkadang, egoku dengan perasaanku sendiri ialah mengapa… aku selalu menyayangkan hubungan yang telah lama kurangkai indahnya bunga-bunga, hubungan yang selalu kubayangkan selalu bahagia, hubungan yang selalu kuagung-agungkan akan berakhir di pelaminan, dan hubungan yang tiada batas ini ternyata menjadi boomerang untuk ku sendiri.

Selama ini, aku selalu berfikir. Apakah egoku, apakah sikapku yang membuatnya berbelok ? apakah orang lain lebih baik, lebih menarik, lebih dan lebih dimatanya. Yah, tanpa kujawab sekalipun akan tetap iya. Hela nafasku semakin berat, langkah kakiku semakin lemah, aku ingin bangun, bangkit, melawan sakitku sendiri, namun aku tertatih. Kali ini, ia yang menolongku waktu itu, ia yang membangkitkan ku waktu itu justru ia yang melukai ku dalam diam dan lebih dalam.

Tak ada maksutku untuk menghakimimu, tak ada maksut hati untuk memojokkan apapun. Aku hanya sangat menyayangkan pandangan baik ku padamu selama 3 tahun lamanya, bahkan sampai detik ini aku masih meyakini kamu adalah orang baik, tulus, penyayang, dan pengertian. Namun, kamu tak pandai mengedepankan siapa yang berhak mendapat itu semua. Sesaat sedetik ini, pandangan baikku padamu hilang. Bahkan, kepercayaan yang pernah rusak tahun lalu yang sedang sedikit demi sedikit aku perbaiki kini kembali hancur. Aku harus bagaimana … tolong siapapun, siapapun yang membaca ini… beri aku saran, walaupun entah akan terdengar oleh telinga tuliku atau tidak, aku hanya membutuhkan genggaman erat yang menguatkan ku, menghadapi hari demi hari yang terasa amat sangat berat. Lebih berat dari tahun lalu, karena masih dengan luka yang sama.

Ingin sekali aku menyalahkan dia yang sedang membersamaimu, namun aku selalu berfikir dia tak akan begini kalau kamu tak memulai. Mungkin sesama perempuan, aku masih terlalu baik ya masih memikirkan posisi dan perasaan mu sedangkan kamu dengan bodohnya tak pernah memikirkan seseorang yang jelas-jelas ada hubungan yang jelas namun kamu menghiraukan hal itu. Yah, walaupun begitu aku akan selalu tetap berterima kasih untuk setiap perempuan yang merebut merampas kepemilikan orang lain, dengan begitu aku menjadi tahu bahwa ini bukan yang terbaik untukku.

Teruntuk kamu, lelaki baik ku… mengapa kamu setega ini, mengapa kamu membuka luka yang tengah mengering. Kamu tahu, luka yang kamu buat bulan November tahun lalu, ia masih basah dan kamu melukai nya lagi ditempat yang sama. Kamu tahu, itu akan lebih lama sembuhnya. Aku tak menyayangkan hal itu, anggap saja biarlah hanya sebatas luka. Aku hanya menyayangkan sifatmu. Mengapa kamu terus-menerus memakai topeng baikmu ? mengapa kamu terus-menerus brengsek dan bajingan seperti itu ? aku mengenalmu bukan seperti itu, sungguh. Sejujurnya, aku tak kuasa dan bahkan aku kehabisan kata untuk memaki mu. Rasanya hanya satu, kulepas kamu, kupersilakan kamu pergi, menghampiri bahagiamu disana.

Hari ini, kamu kembali kekota perantauan mu. Kamu terlihat sedih karna berpisah denganku dikota kecil ini. Tapi aku tahu, kamu bersemangat karna akan bertemu dengan bidadari kantormu. Aku akan berusaha memahami sedikit demi sedikit mengapa kamu seperti ini. Tanpa harus kamu yang akan memahamiku. Cukup, mungkin hanya kata itu yang akan menyudahi luka dan airmata.

Kecewa ? kata itu… Tak adakah kata yang lebih menyakiti dari kecewa ? ya, aku saat ini adalah lebih dari itu. Makian ku sudah sampai disini saja, untuk lelaki baik tak pantas kuberi makian sebrengsek ini. Banyak pesan mungkin yang ingin kusampaikan, dan belum tersampaikan saat pertemuan terakhir kemarin.

Jadilah baik, tetaplah baik, seperti aku yang mengenalmu dulu. Jika niatmu menolong, tolonglah seperlunya jangan pernah mengambil hatinya. Karna, ketika hatinya telah kau genggam, dan pertolongan mu telah usai. Akan kamu kemanakan hati itu ? ketika ada yang meminta tolong lagi ? paham kan sampai disini.

Jadilah bajiangan dan brengsek untuk dirimu sendiri, jangan ke hati perempuan, karna kamu harus mengingat, kamu memiliki ibu, adik perempuan, dan kelak kamu akan memiliki istri dan anak perempuan pula. Mereka tak pantas mendapat balasan dari yang telah kamu perbuat selama ini, berhentilah sebelum semua terlambat.

Setelah ini, kuharap kamu akan bertemu, serius, dan focus dengan hal yang kamu idamkan seumur hidupmu. Sedih iya, sakit banget ketika aku harus membayangkan dan merangkai kata bahagia masa depanmu padahal tidak denganku.

Terimakasih ya, sudah sempat baik denganku 3 tahun lamanya. Terimakasih untuk semua pengorbanan mu, kesabaranmu, dan cintamu. Kamu hanya bukan menjadi milikku lagi, namun kamu adalah tetap teman baikku sampai kapanpun, aku tak membencimu, sungguh.

Teruntuk peempuan, teman kantormu. Aku tahu kamu perempuan baik kok, kamu gak baperan dengan hal ini, kamu tak ada niat untuk mengajaknya berbelok. Hanya saja, kenapa ? kamu mencoreng pandangan baikku pada lelaki yang memang sungguh baik. Kamu tahu menahu ia memiliki kekasih dikota kecilnya, namun kamu dengan entengnya dengan suka citamu bermain pergi berdua tak sekali duakali. Kamu menceritakan kisah memalukanmu, kisah kasus mu, kisah gelapmu mungkin dengan seorang pria ? YANG SUDAH MEMILIKI KEKASIH… demi apa ???

Kamu mencintai lelakiku ? kamu nyaman kah dengan dia ? AMBIL… AMBIL SAJA. Jujur, aku ingin marah padamu. Tapi, aku tak mengenalmu sama sekali. Bahkan, aku sempat berfikir aku ingin berteman denganmu, agar apa ? agar kamu ta begini lagi suatu saat nanti. Kamu tak melayani pria yang SUDAH MEMILIKI KEKASIH LAGI. Cukup, kamu sangat beharga, jangan sampai lelaki dikantormu memandagmu lemah dan murahan. Jangan pernah berbangga diri banyak yang ingin mendekatimu, karna ia hanya bosan dan penasaran denganmu. Mbak, maaf dan terimakasih ya. Semoga kamu akan tetap jadi wanita baik kelak.

Dari aku, luka yang tak kunjung sembuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

About Covid-19

Always prayer for you

Kisah Sedih