Well Done !
Hari ini, hari-hariku masih terasa berat. Dari membuka mata, langkahkan kaki, bahkan sampai pejamkan mata lagi semuanya berat. Bahkan setiap detik, hela nafas ini rasanya sesak. Aku tak tahu menahu tentang perasaan ini, tentang maunya hati ini. Aku hanya terus terdiam, meresapi setiap kesulitan yang ada.
Ya
Rabb, mengapa harus aku lagi… mengapa harus aku alami rasa yang sama lagi dan
lagi. Sakit yang melebihi sakit dahulu. Setiap perkataannya yang dusta itu terus menyakiti setiap hela nafasku.
Dusta
adalah dusta, bohong adalah awal dari pengkhianatan. Sekalipun tak ada hubungan,
kebohonganmu benar-benar yang terbengsrek yang pernah ada. Kamu jahat… kamu
lebih dari pria jahat yang pernah kutemui. Tahukah kamu, aku tak kuasa jalani
hari lagi saat ini. Kamu hancurin semua harapan” dan doa” ku. Kamu hancurin
semua angan akhir bahagiaku. Semoga tak apa, sebahagiamu saja. Mungkin kamu
belum puas memberi luka dan air mata. Ku pasrahkan semuanya. Silakan…
Mungkin,
hari ini adalah hari terakhir aku mendengar kata sayang dari mu. Mulai esok, katakan saja kata itu dengan perempuan yang kamu mau, perempuan yang jelas selalu dekat
denganmu, perempuan yang merebut posisiku, perempuan baik, teman baik, katamu.
Dear,
dunia… ketika ragaku benar-benar lemas, airmata ku habis terkuras, aku
benar-benar ingin menyerah. Menyerah dengan semua perasaan yang tersisa. Perasaan
yang baru usai berbunga, kini layu seketika. Ternyata benar, pertemuan kemarin
adalah terakhir. Foto kemarin adalah terakhir. Sedih… tak tahu lagi harus
mengatakan apa selain sedih. Aku rindu sahabatku 3 tahun yang lalu, seketika
aku sangat membutuhkan ia, seandainya ia ada disini, pasti ia sudah menghajar
habis seseorang yang melukaiku, pasti ia akan menguatkanku, bantu aku bangkit
lagi, menghiburku, tapi ia sudah tak ada. Ia adalah yang tengah melukaiku
bertubi-tubi saat ini.
Untuk
mu, aku tak menyangka sama sekali. Entah apakah kamu memang seperti ini dari
dulu atau aku yang membuatmu menjadi seperti ini ? mengapa kamu menjadi setega
ini dengan hati perempuan, bahkan perempuan mu sendiri. Mengapa kamu menjadi
sejahat ini ? mengapa !!!! aku bahkan tak sanggup lagi marah, kecewaku sudah
diambang batas, sedih tangisku tak lagi terukur. Bahkan, memaafkan mu pun aku
berat. Kapan kamu bakal sadar dengan semuanya. Kapan kamu akan mencoba mengerti dengan
semua yang udah kamu lakuin. Kamu tak akan pernah bisa berubah, kecuali km ngerti
titik kesalahan mu. Sedih… jujur melihat kenyataan kamu yang seperti ini. Tak akan
ada jawaban selain kamu sendiri yang menjawab dan memahami.
Jujur, aku
ada salah ya selama 3 tahun ini ? aku pernah menyakiti km pula, aku pernah
mengecewakan mu juga, dan semua itu kamu masih mengingat dengan jelas salah dan
khilafku. Mungkin ini semua ya, yang membuatmu jahat tega dengan perempuan mu
sendiri. Emm, atau karna watak sifat dan egoku ya, yang selalu larang km ini
itu, gaboleh dekat sana sini, gabolehin kamu ngelakuin apapun yang sebenernya kamu suka dan mau.
Sampai detik ini, aku masih pengen ngbrol dengan diriku sendiri, aku kenapa sih
seperti ini ke kamu ? sampai akibatnya nimpa aku sendiri, ngeruguiin ngehancurin
hatiku sendiri. Kamu tak perlu memikirkan itu semua, sifat watak egoku sekarang
adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Kamu tak perlu lagi menanggung larangan”ku
dan celotehanku yang selalu cemburu sana sini. Maaffkan aku ya, maaffkan aku
yang dari awal aku memulai hubungan baik denganmu namun masih saja seperti
ini tak sesuai keinginanmu, maaffkan aku yang selalu membosankan hingga tak
mampu warnai hari-harimu, maaffkan aku yang terlalu manja untuk selalu ingin ini
itu, maaff, maaff untuk semua kurangku. Aku baru menyadari setelah aku terluka,
aku baru mau menerima salahku ternyata banyak setelah aku kecewa bahkan dengan
diriku sendiri pula. Seandainya, aku mampu merubah sifat watak dan egoku, pasti
kamu tak akan seperti ini kan. Kamu akan tetap baik dengan hati siapapun kan,
apalagi hati perempuan.
Aku
masih teringat, kamu pernah bilang padaku. “Takkan ada lelaki sepertimu, yang
mampu menghadapiku dan bertahan sampai saat ini.” Aku mengiyakan kalimat itu,
untuk memulai kehidupan lagi pun aku tak memiliki kepercayaan diri lagi. Aku tak
tahu akan bertemu siapa esok dan harus bersikap bagaimana. Sebenarnya, aku
terlalu takut untuk melangkah lagi dan sendiri. Aku terlalu takut untuk membuka hati
lagi, mengenal seseorang lagi, mungkinkah aku mampu. Padahal saat ini, harapan
dan doa untuk bersamamu masih ada. Sedih.. sakit… kenapa kalian sejahat ini
!!!!!
Komentar
Posting Komentar