Oh Ternyata "I Cried"

 

Oh ternyata, selama ini aku baru tahu menahu alasan utama mu. Untuk berat melepasnya, untuk berat meninggalkan nya, atau bahkan hanya sekedar untuk jeda tak memberinya perhatian. Walaupun sakit, ini adalah tamparan keras untuk ku. Untuk aku yang tak seperti ia. Ia yang cantik menawan, ia yang se asyik itu, humble, dan ternyata juga lebih care denganmu. Membuatmu terlena dan tak mempedulikan ribuan air mata yang jatuh dipipi seseorang mu.

Aku tak tahu Tuhan, apakah aku terlalu baik atau terlalu bodoh. Mengapa aku selalu gagal untuk menjaga sesuatu yang pernah membuatku bahagia. Mengapa aku tak pandai membuatnya nyaman dan bertahan lama berada disisiku. Apa salahku Tuhan, apa yang harus kurubah, apa yang harus kuperbaiki, haruskah aku seperti mereka yang membuatnya nyaman, padahal aku tak kan pernah bisa seperti ia. Aku hanyalah aku dengan segenap kurangku. Aku hanyalah aku dengan ribuan luka yang tak kunjung usai. Trauma dan harapan selalu berjalan beriringan yang senantiasa membuat langkahku menjadi ragu.

Ya Tuhan, saat ini aku hanya ingin menangis sendiri. Dengan kenyataan bahwa aku benar-benar tak punya siapa-siapa selain Engkau dan rangkain kata ini. Ungkapan hati dan perasaan yang tak seorang pun tahu menahu. Karna aku menyadari, sendiri ku adalah luka yg sebenarnya. Kenyataan ini yg membuat derasnya airmata. Malangnya aku, tak kan pernah ada beruntungnya seseorang yang bersanding denganku. Bahkan, detik ini. Aku telah kehilangan bahagia dan percaya ku sendiri. Harapan yang masih tersisa bahkan aku terlalu takut untuk sekedar memikirkan, seakan tiada mungkin aku akan memiliki bahagia lagi. Bahagia yang sampai turun airmata tanpa kata adalah bahagia yang kuharapkan.

Berat setiap hembusan nafasku, berat setiap jemari yang ingin menggambarkan rasa sakitku. Dua kali aku kalah. Aku kalah dengan kata Long Distance Relationship. Aku selalu kalah dengan dia yang dekat. Apalah daya aku yang selalu dan selalu terbohongi terdustai dengan ribuan bahagia yang kujalani diatas luka yang tersembunyi. Sungguh, aku benci dengan keadaan ini. Aku benci dengan mengapa harus selalu aku ? hikmah apa Tuhan yg ingin Engkau tunjukkan.

Lebih beratnya, setelah luka ini terus menyayat, ia yg enggan melepas luka ku dan memilih untuk terus melukai. Sebrengsek itu seseorang yang pernah menyelamatkan ku dari luka terdalam. Dan sebodoh ini, perempuan yang selalu menerima dan luluh dengan untaian kata nya. Aku harus bagaimana dunia… sebait dua bait kata tak akan menjawab tangis ku, aku hanya lega sesaat setelah menuliskan ini. Setelahnya, aku kembali menangis.

Terus dan akan terus seperti itu… jikalau kamu tau L

Komentar

Postingan populer dari blog ini

About Covid-19

Always prayer for you

Kisah Sedih