Deeptalk
Dear Merpatiku,
Jujur, malam ini air
mata ku kembali menetes. Aku sudah ditik lelah, aku lelah terluka, dan aku
lelah mencinta. Jujur, aku tak mampu berhenti seperti orang-orang bilang. Bahkan
terkadang aku benar-benar nyaris tak mampu berdiri sendiri lagi. Iya, aku
serapuh itu. Kuakui, aku benar-benar seterluka ini. Karna, sebesar itu pula aku
mencinta.
Bulan ini benar-benar
menghancurkan puing-puing patah yang sedang kurangkai, tak menyisakan satu
bahagia yang bisa ku ukir. Aku tak tahu harus bagaimana lagi, aku tak tahu
harus melakukan apa, bahkan aku sama sekali tak tau mau ku apa. Aku sedang
berada di titik “Ya Allah, jika Engkau dengan mudah membolak balikkan hati
hamba Mu untuk mencinta, maka mudahkan lah pula hati hamba Mu untuk melupa”
karna, selagi rasa itu sebesar ini. Aku akan terus terluka, aku akan terus
menangis menyesali semua hal.
Tahukah kalian, aku tak
pernah main-main atau setengah-setengah perihal menaruh rasa. Tak semudah
membalikkan telapak tangan, tak secepat angin lalu perihal menyembuhkan luka dan
bahagia kemudian. Banyak badai yang tak sedikit air mataku kembali bercucuran,
hingga aku harus kembali berhadapan dengan badai itu lagi. Namun, kali ini aku
sendiri. Mampu tidak mampu, aku harus melawan rasa takut ku. Banyak takut,
seperti takut kehilangan sosok kamu. Kata orang, ini bucin. Tapi kupikir, ini
berbicara tentang kesetiaan. Kupastikan, hati dan perasaanku akan selalu utuh
dan terjaga. Walaupun beribu kali aku terluka perihal kesetiaan.
Tahun ini, tahun yang
berat. Disaat aku harus mengesampingkan luka fisikku dengan beribu tekanan. Aku
harus mampu menyembuhkan sedikit demi sedikit luka kalbu ku. Sungguh, hanya
goresan kata ini yang mampu menenangkan. Aku menguatkan aku, aku menyemangati
aku, dan aku berusaha lagi mencintai sosok aku. Kalian tak akan pernah tau,
betapa sulitnya aku mengutarakan semuanya, betapa perihnya aku ingin meluapkan
semuanya, dan lagi-lagi aku selalu tak mampu untuk itu.
Suatu ketika, aku ingin
melawan ego ku. Ego yang membara penuh amarah, aku redam aku siram dengan air
mata. Sesimpel itu luka yang kualami. Siapapun tak akan pernah mampu
memahamiku. Aku yang terlalu mencinta melebihi apapun, dan aku yang harus
perlahan menghapusnya sendiri. Apakah pernah ada dalam benak kalian ? bunga
yang bermekaran harus melayu dan menggugurkan sendiri dalam waktu bersamaan ?
itu mustahil terjadi, dan aku sedang diposisi seperti itu. Pernah tak
membayangkan bagaimana bisa ?
Malam ini, akan kucoba
membungkus ego amarah ku dengan hati yang pasrah, bukan menyerah, hanya saja
berhenti sejenak merenungi salah dan kesalahan ku. Setiap orang berhak
menciptakan bahagia nya sendiri diatas kebebasan dunia nya. Maka, kupikir tak kan
ada hak lagi aku mencampuri kebebasan setiap insan. Satu titik kesalahan fatal
ku yang berhujung melukaiku sendiri.
Maka, kulepas kamu
wahai merpatiku. Terbanglah setinggi dan sejauh mungkin dunia mana yang ingin
engkau singgahi. Aku tak apa. Maafkan aku, maaf selalu mengurungmu dengan atas
nama cinta dan setia. Semoga kamu menemukan bahagia mu.
Suatu saat engkau akan
memahami, mengapa aku sejauh ini, mengapa aku seterluka ini untuk memutuskan
perkara yang tak mudah diatas perkara yang menurut engkau simple. Kelak, aku
berharap engkau tak melakukan ini lagi dengan merpatimu yang baru. Jaga atas
nama hati dan setia. Dari aku, yang selalu mengukir indah nama mu.
Komentar
Posting Komentar