Why you :(

 

Kalau disuruh mengartikan perasaanku malam ini. Sungguh tiada kata yang mampu mendefinisikan. Selain terlalu sakit, dibuat kecewa tiap hari adalah broken mental banget buat aku pribadi. Amarah ku malam ini sudah dititik menyerah untuk yang pertama kalinya. Menyerah untuk melangkah mengejar, menyerah untuk memperbaiki, menyerah untuk segala hal yang menyakiti.

Melihatnya dengan tatapan yang tenang, tanpa tatapan penyesalan, tanpa tatapan mohon ampunan, mengiris semua bagian hati dan perasaanku. Mungkin, waktu ingin menunjukkan bahwa aku benar-benar harus berhenti. Meninggalkan semua lelah, kesal, airmata, kecewa, dan cinta. Yang aku pribadi tak tahu apakah aku mampu. Karna aku akan dibuat mampu oleh keadaan kelak.

Benar, waktu pula yang menunjukkan kita tak dapat lagi untuk saling memberi dan melengkapi. Karna dengan aku yang mencintai tulus untuk menjaga kesucian dari kesetiaan tak akan pernah bersatu dengan seseorang yang hidup dengan kebebasan pertemanan tanpa mengindahkan perasaan pasangan. Rumit memang, dan sangat sakit untuk kita berdua lalui. Kamu yang tertekan dengan larangan. Dan aku yang tertekan dengan keadaan.

Semua dibuat bingung karna perasaan, perasaan yang kuakui masih sama-sama bersemi bahkan mungkin sedang berkembang dengan cantiknya. Namun, seketika dibuat layu tak berbunga oleh angin yang menerpa. Menulis ini, hatiku serasa kosong.

Setelah kutangisi dengan gila nya, hati dan pikiranku sedang kutata. Tak berbentuk seperti semula, hanya ditemani lamunan. Mengapa malangnya hati ini, harap dan angan tak lagi ku genggam. Aku hanya termangu, sendiri. Tak pernah kusangka. Beribu kata mampukah selalu ada dikepala. Dan sepertinya aku belum mampu.

Aku mengerti malam ini, sebegini ternyata caramu menghargai. Ketika kamu ingin menjaga perasaannya, dan mengesampingkan perasaan pasanganmu. Disitu letak martabatmu tak pantas kusebut lelaki sejati. Iya, kalian pasangan yang serasi. Sama-sama mau menyakiti hati perempuan demi ego kebahagiaan hati. Sama-sama mau mengulangi, dan terus membohongi.

Sedih banget, sedih yang tak pernah bisa kugambarkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

About Covid-19

Always prayer for you

Kisah Sedih