My Broken Life
Hai, kamu. Kenapa ya selalu kamu yang aku ceritakan, yang aku sebut, padahal kamu sekarang adalah orang yang paling kubenci sedunia. Yah, karna posisimu, peranmu, sebenarnya tak mengubah pandanganku tentangmu. Kamu tetap seseorang yang menurutku melebihi sebagai seorang kekasih waktu itu, jika peran kekasih telah tiada, makan peran mu lain masih bermain dibenakku. Jadi, hari ini aku mau cerita. Entah akan sampai dikamu atau tidak, kamu tahu kan hanya ini kawanku disaat saat yang susah, disaat orang-orang sama sekali tak mampu memahamiku.
Kamu tahu, aku hancur. Aku porak poranda, semenjak hari itu,
bulan itu, tahun ini. Semenjak kamu melepaskan genggamanku, semenjak kamu
mengatakan dengan mulutmu sendiri ingin pergi, dan semenjak kamu memutuskan
untuk tak menghubungiku lagi padahal aku masih mencari. Yah, dititik itu bahkan
sampai sekarang aku masih porak poranda, berantakan, hidupku hancur lebur. Aku tak
tahu arah, hingga pada suatu masa. Aku terjerumus. Aku terjatuh kelubang
kegelapan yang amat sangat gelap disana. Sekarang, aku takut… aku tak punya
tempat berlindung, aku tak punya siapa-siapa yang mampu ku bercerita.
Aku mengenal beberapa orang setelahmu, ia yang berniat serius
denganku. Pela-pelan kujalani hari dengannya, rasa itupun tak kunjung ada. Hingga
pada suatu waktu, ia memberanikan menemui orang tuaku, kakak kandungku, dan
bahkan akupun telah bertemu dengan keluarganya. Itu adalah hal yang pertama
kali kulakukan, aku takjub dengan kata restu dari keluargaku. Namun, rasa itu
tak kunjung datang pula. Hingga akhirnya ketika ia tak ada disisiku, aku mulai
mencari, ketika ia tak mengabariku aku rindu, ketika ia berduka aku turut
bersedih. Tak tahu dari mana, rasa itu muncul dengan kuatnya. Aku mampu
merasakan bahagianya dibuat tawa, mampu merasakan senangnya diratukan olehnya. Dan
masih banyak hal yang membuatku semakin yakin bahwa ia orangnya.
Namun, tahukan kamu. Kembali aku dikecewakan, kali ini bukan
hanya hatiku namun hati orangtua ku, hati keluargaku. Dengan kepergiannya yang
tiba-tiba, dengan alasan ingin memperbaiki diri, dengan alasan belum pantas
bersanding denganku perihal pekerjaan, dengan alasan minder, dan masih banyak
hal. Sungguh, waktu itu aku menangis sejadi jadinya penuh dengan kebencian. Namun,
aku masih meyakini satu hal bodoh. Kupikir, iya gada salahnya aku juga
memperbaiki diri, kelak kalau ia telah sukses dengan pekerjaannya ia akan
menjemputku. Dan ternyata… ia justru mencari perempuan lain. Yang notabennya
dari segi pekerjaan lebih diatasku. BAJINGAN… pantas kurasa aku menyebutnya
dengan itu. Mana yang katanya minder, memperbaiki diri,mencari pekerjaan tetap,
dll ? bulshiitt, omong kosong. Nyatanya, ia mencari yang lebih dan lebih.
JANCUK… kalau niatnya seperti itu jangan bawa-bawa keluargaku. Jujur,
disini kecewaku yang berlipat ganda rasanya sakit yang teramat. Bukan karna aku
kehilangan dia, bukan dan tentu saja tidak. Tapi, hati ayah ibuku keluargaku
yang sudah dikecewakan.
Sekarang, aku benar-benar kacau. Lelaki mana lagi yang mampu
kupercaya ? ditengah lubang kegelapan, uluran tangan ingin menolong ku saja aku
ragu. Sebenarnya tak hanya satu lelaki itu yang turut andil dalam cerita
perjalanan menata hati. Hanya, kesemuanya aku belum mampu percaya. Sungguh,
kepercayaan itu mahal sekali harganya. Dan untuk saat ini, aku ditengah posisi
mengagumi seseorang yang entah apakah ia juga sama atau tidak aku tak tahu,
kita sering bercanda, berkomunikasi, chemistry juga dapet, tapi ia sedang
sakit. Ia mengkhawatirkan itu sehingga tak mampu memutuskan untuk melangkah
denganku atau tidak. Satu orang lagi, seseorang yang mengagumi ku sebelum aku
dengan kamu. Ia masih terus mengagumiku hingga saat ini, ia sangat baik, ia
bahkan tahu posisiku yang sedang didalam lubang kegelapan, ia terus baik dan
kagum walaupun seringkali kusuruh pergi. Aku menjaga dia, karna baik hatinya. Aku
enggan melukai ia, seringkali kukatakan aku tak mampu seinstan itu mencintai,
dan ia memilih tetap bertahan ditengah luka deritaku yang tak kunjung sembuh.
Tahukah kamu, aku lelah. Aku lelah dengan hidupku, aku telah
jauh dari Tuhanku, hingga aku dibuat luka yang teramat luka. Jika suatu saat
nanti, lubang kegelapan itu menarik orang-orang disekitarku. Aku akan semakin
terpuruk dan tak mampu melihat dunia lagi. Terkadang, aku memikirkan apakah
dengan taruhan nyawa semua mampu selesai ? sungguh, taka da yang tahu menahu
tentang masalahku selain Tuhanku.
Dan kenapa lagi-lagi aku bercerita seolah sedang mengatakan
ini denganmu ? jujur aku menangis tiap kali mengetik uneg-uneg yang menyesakkan
ini. Aku ingin sekali saja mendengar suaramu menyemangatiku, genggaman hangat
tanganmu yang menguatkan aku. Sayangnya, tak akan pernah lagi. Dunia terlalu
jahat memilihkan jalan cerita hidupku. Hingga aku benar-benar tak mampu lagi
berbuat ataupu berkata.
Terimakasih ya, untuk waktu luangnya, aku telah selesai
bercerita. Sehat-sehat disana kamu.
Komentar
Posting Komentar